Semalam di Malaysia

Ini adalah sebuah catatan perjalanan tour dari Pontianak ke kota Kuching Serawak – Malaysia. Tidak ada hubungan khusus dengan Mano😛.

Serawak adalah bagian dari Malaysia yang berada dalam kepulauan Borneo/Kalimantan. Tak heran jika kultur-kebudayaannya masih sangat dekat. Bahkan perjalananya pun bisa ditempuh dengan jalan darat.
Dengan perbekalan pakaian serta perbekalan lain laiknya orang berpergian, kami sekeluarga berangkat menuju Serawak. Tak lupa bekal yang paling penting adalah Pasport, karena sudah beda negara, juga sejumlah RM (bukan Raden Mas, ini Ringgit Malaysia :-D).

Pendatang Gelap

"Pendatang Gelap"

Dengan bus berangkat dari Pontianak sekitar jam 21:30, transit di dua lokasi di Anjungan dan Sosok, dengan perjalanan yg cukup panjang akhirnya sampailah ke perbatasan pada jam 04:30 dini hari, di sisi Indonesia bernama Entikong, di sisi Malaysia terdekat bernama Tebedu. Karena sampai disana masih dalam keadaan gelap, plus kabut yg cukup pekat, jadilah kami “pendatang gelap” hehe.

Untuk bisa melintas batas, kita harus melewati sejumlah pemeriksaan Imigrasi Indonesia dan “Imigresen” Malaysia. Ada untungnya, karena membawa pasukan krucil, justru bisa mendapatkan prioritas pemeriksaan di ruang terpisah, sehingga nggap perlu ngantri.

Setelah semua passport di cek dan ok, kami pun melanjutkan perjalanan, dari perbatasan ke kota Kuching Sarawak, kurang lebih 2 jam perjalanan. Kali ini perjalanan lebih terasa nikmat, jalan mulus, pemandangan lahan sekitar jalan lebih terawat rapi dan ditambah rasa penasaran. Klop deh.

Sampai di Kuching, tujuan pertama adalah sarapan! (maklum dari pagi belum kebagian utk makan pagi). Pilihan jatuh pada kedai di pinggir sungai serawak, berseberangan dengan kantor walikota. Karena sudah lapar, maka tak butuh waktu lama untuk menghabiskan seluruh hidangan, zzaap!🙂.  Setelah makan tak lupa mengabadikan lokasi sekitar, tempat yang sejuk dan bersih, sedap dipandang mata.

Ketinting Low Noise

Ketinting Low Noise

Yang menarik adalah, sampan atau di kalimantan sering disebut kapal ketinting. Disini, ketinting dilengkapi dengan mesin “low noise”, sehingga suasana pinggir sungai lengkap dengan suara kecipak air dan suara burung2, masih dapat dipertahankan. Sangat berbeda dengan suasana pasar terapung di Banjarmasin – Kalsel, mungkin hanya bisa disetarakan dengan sampan tanpa mesin, tenang. Warna sampan juga sepertinya diatur, walaupun ditempel dengan iklan operator seluler swasta Malaysia, tapi tetap apik – eye cathing.

Jauh-jauh ke kuching tentunya, yang wajib dikunjungi adalah tempat yang paling tenar dan terkenal, Water Front City. Atau dalam bahasa jawa , “kutha pinggir kalen”🙂. Di Water Front City sebetulnya tak jauh beda dengan nuansa kota sungai lainya, ada sungai-air, tanaman yang rindang. Tapi kemasan yang ditampilkan lebih membuat orang betah di sini.

Water Front City - at night

Water Front City - at night

Cafe dan kedai yang teratur dan tertib (tidak seperti Pedagang Kaki Lima di pasar tengah Pontianak :P). Tempat bersantai dan berfoto-fot0 pun disediakan. Dan yang penting rupanya penjagaan oleh polisi Malaysia dilakukan hampir 24 jam. Jadilah aman dan nyaman.

Diantara keindahan dan kelebihan yang mencolok di sana adalah; Kota yg bersih, tertib dan rapi. Kebersihan sepertinya benar-benar sudah menjadi habit-budaya, bukanlah suatu hal yg dipaksakan. Lebih ke kesadaran memelihara kebersihan. Ketertiban, selama disana hampir tidak pernah terdengar sekalipun bunyi klakson mobil, walaupun kondisi macet, trafic jamm. Pengguna jalan juga saling menghormati; pejalan kaki, mendapatkan alokasi trotoar yang cukup luas dan nyaman. Mobil dan kendaraan bermotor juga tertib, dan sangat sedikit mobil disana yang ber-asap. Satu sisi mungkin karena mobil relatif baru, tapi saya amati memang mobil lama pun tidak berasap, pemeliharaan dan aturan disana mungkin sangat ketat soal emisi.

Seberapapun nyaman di negeri orang, ternyata tetap ada saatnya untuk pulang. Ibarat rindu kampung halaman, esoknya kami pun bertolak kembali ke Pontianak, dengan perjalanan yang memakan waktu hampir sama. Welcome to the jungle🙂

5 Tanggapan to “Semalam di Malaysia”

  1. -lie- Says:

    Keren tuh bise sampe sanak!!

    Kapan ye bise jalan2 kesana???

  2. bujang Says:

    Terima kasih saudara atas pujian yang cukup hebat diberikan ke atas negeri kami. Saya cukup tersentuh bila usaha yang dilakukan oleh pihak berkuasa selama ini menampakkan hasil.

    Sebenranya budaya kita tidak jauh bezanya. Pontianak juga mempunyai kelebihan yang tersendiri. Sebelum itu ingin saya jelaskan bahawa Kuching dan Sarawak amnya sangat ketat dari segi penguatkuasaan undang-undang. Boleh dikatakan sarawak dan malaysia adalah negara hukum! Sebagai contoh, tourist akan selalu dipantau oleh polis pelancong agar mereka sentiasa selamat. Begitu juga dengan persekitaran, di negeri kami sesiapa yang mengeluarkan asap kenderaan yang melebihi tahap yang dibenarkan oleh jabatan Alam Sekitar akan dihukum dengan hukuman berat, hon kereta pula tidak digalakkan kecuali kalau benar-benar perlu demi menjaga suasana privasi bandaraya, kerana di sini bunyi juga dianggap sebagai mencemar alam sekitar. Begitu juga tempat parking kereta, polis akan mendenda dengan kompaun RM150 (garisan kuning), selebihnya hanya RM50 untuk lain-lain kesalahan ringan parking. Soal kebersihan memang diberi perhatian, kerana pihak berkuasa di sini benar-benar berusaha menjaga imej kota agar tidak memalukan. Sesiapa yang membuang sampah merata tempat walau sekecil mana sekalipun, dan jika terlihat oleh polis atau penguatkuasa Dewan bandaraya, orang tersebut akan terus dikeluarkan kompaun yang berat. Awas! kalau membuang sampah dari kenderaan (ketika sedang berjalan), maka jangan hairan kereta polis dengan siren berbunyi atau penguatkuasa bandaraya akan mengejar anda sampai dapat.

    Apapun, saya juga patut memberi pujian ke atas kota anda, Pontianak. Saya pernah berkunjung ke sana pada 1992. Saya pasti setelah hampir 20 tahun tidak ke sana, pasti kotanya lebih menarik. Mesti sudah banyak yang berubah membangun dan maju. Tetapi apa yg lebih menarik Kota Pontianak ialah sikap orangnya yang jelas nampak lebih peramah, cantik, dan tidak menyombong. Saya pernah berbicara dengan dengan orang pontianak, nyata sekali mereka amat menghormati tetamu dan sentiasa merendah diri. Barang yang dijual di kota ini pula banyak yang jauh lebih murah berbanding Kuching, dan makannya banyak yang sedap. saya teringin benar hendak membawa famili ke Pontianak pada tahun ini kerana ketika saya melawat dahulu, saya masih lagi solo. saya pernah menveritakan kepada mereka bahawa Pontianak ialah sebuah kota yang harus dilawati dengan banyak tempat-tempat menarik yang pastinya menjadi kenangan dibawa pulang.

  3. bheri Says:

    Hoho.. terimakasih abang bujang sudah masuk laman kami. Semoga silaturahim tetap terjaga.

    • bujang Says:

      terima kasih sama. Insyaalah, kalau ada kelapangan, silalah berkunjung lagi ke negeri kami atau Kuching khususnya. Antara Kuching dan Pontianak, sudah seperti abang dan adik, yang saling berhubungan dan hormat menghormati.

      besar kemungkinan pada bulan oktober ini nanti saya akan berkunjung ke Pontianak bersama-sama dengan rakan sekerja pejabat. Kami sedang mengatur jadual dan senarai nama-nama yang akan ikut serta. kami tidak sabar rasanya nak ke ibu negeri saudara yang terkenal dengan kemesraan dan tatasusila kepada para pengunjung.

      salam hormat dari saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: