Memaknai Hari Raya

Malam ini memasuki malam takbiran untuk esok berhari raya Idul Fitri. Sebagian kita mungkin sudah menyiapkan baju baru, sandal/sepatu baru, perabotan baru, kue-kue pun tak kalah, uang saku untuk keponakan dan tamu budak-budak keci’ (anak2 kecil), bahkan ada mobil-motor baru, HP baru, petasan & kembang api (hehe..), dsb. Apakah harta benda yang menjadi ukuran hari raya ? bukankah puasa sebulan penuh diantaranya agar kita bisa merasakan laparnya si-miskin?. Kalau makan saja tak cukup, apatah lagi baju baru?.

Cobalah peduli ke tetangga terdekat kita, jangan-jangan masih ada yang bersedih tidak punya kebanggaan/kebahagiaan untuk hari raya esok hari. Kalau tetangga “ring satu” aman, cobalah lebih luas ke kerabat dan saudara, atau cobalah sapu pandangan kita ke sekitar. Lebih baik kita “berburu” kebaikan untuk bisa berbagi kebahagiaan dengan sedekah harta yang kita mampu dan miliki.

Ada kisah yang menggugah nurani kita, dari Rasulullah SAW, berikut cuplikannya yang saya dapat dari okezone.com diambil dari penuturan Ust Yusuf Mansur, semoga kita mampu mengambil hikmah dan segera beramal :


“…. kisah Rasulullah SAW pada saat Idul Fitri. Saat umat Islam di Madinah merayakan hari berbahagia tersebut dengan mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, Rasulullah SAW terlambat datang memimpin salat sunah Idul Fitri.

Para sahabat bertanya-tanya ada apa gerangan yang menunda kedatangan beliau. Rupanya di perjalanan menuju masjid,beliau melihat ada seorang anak kecil yang sedang menangis terisak-isak. Padahal, teman-teman sebayanya bersukaria dengan berbusana serbabaru dan bagus-bagus.

Kenapa kau menangis sendirian wahai anakku, padahal hari ini kan hari bergembira,” tanya Nabi SAW kepada bocah malang tersebut. “Bagaimana aku tidak menangis, mereka punya pakaian baru,punya uang jajan banyak,habis makan enak,sedangkan aku…,aku enggakpunya apa-apa,”jawab bocah itu polos tanpa menoleh sedikit pun orang yang menyapanya.

Memangnya ayah-ibu kamu ke mana?” tanya Nabi ingin tahu penyebab kesedihannya. “Ayahku sudah meninggal, ibuku kawin lagi, dan harta kekayaan peninggalan almarhum ayahku sudah habis oleh ayah tiriku,” kata anak itu dengan isak tangisnya yang kian menjadi-jadi.

Mendengar ucapan anak itu,Nabi membelai kepala anak yatim tersebut dengan kasih sayang,menyapanya dengan lembut dan berkata, “Bagaimana seandainya Fatimah Az-Zahra jadi kakakmu,Ali bin Abi Thalib jadi abangmu, dan Hasan-Husein jadi saudaramu, sedangkan aku jadi ayahmu,apakah engkau mau?” Ucapan Rasul tersebut membuat sang bocah yang sedang terisak itu berhenti dari tangisannya.

Dia kaget, jangan-jangan yang sedang mengajaknya berbicara adalah Rasulullah. Dia baru sadar ketika menengok dan ternyata benar saja, manusia mulia yang sedang mengajaknya bicara adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Tentu saja saya mau banget dan senang sekali,ya Rasulullah…“seru anak itu gembira dan seketika isak tangisnya berubah menjadi senyum dan tawa kebahagiaan. Rasulullah langsung membimbing anak tersebut ke rumah beliau, lantas dimandikan, dipakaikan pakaian yang bagus sebagaimana pakaian yang digunakan cucunya, Hasan dan Husein serta diberikan uang jajan secukupnya.

Setelah itu, anak tersebut bergabung dengan teman-teman sebayanya dengan wajah ceria dan senyuman kebahagiaan, sementara Rasulullah meneruskan perjalanan menuju masjid untuk mengimami salat Idul Fitri.

2 Tanggapan to “Memaknai Hari Raya”

  1. Johan Says:

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H.
    Minal aidin wal faizin.
    Mohon maaf lahir dan bathin.

  2. bheri Says:

    terimakasih bang Johan, maaf lahir batin juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: