Cerai, Menjanda/duda, Selingkuh ? (4)

(Sub) Tajuk keempat tulisan ini adalah “Realitas dan realistis dalam kehidupan rumah tangga”. Hal lain yang dapat menjadi penyebab rumah tangga tidak harmonis adalah kurangnya saling memahami antar pasangan dan bisa juga kurang keikhlasan dalam membina rumah tangga.

Fase paling awal adalah saat pernikahan akan dilangsungkan, terdapat mahar yang menjadi hak/tuntutan mempelai wanita kepada mempelai pria yang melamar dirinya. Hendaklah realistis dalam hal mahar ini, tidak berarti mahar harus murah-sederhana, yang jelas haruslah mempertimbangkan situasi dan kondisi, khususnya kondisi ekonomi (secara umum maupun kondisi secara khusus calon mempelai). Contoh perbandingan ini, mahar Muhammad (sebelum diangkat rasul) untuk menikah dengan Khadijah adalah 100 ekor unta. wew…😀 anggaplah seekor unta sama dengan sebuah kendaraan, berarti 100 buah kendaraan (itung sendiri yak…!). Tapi disisi yang lain masih pada zaman Rasulullah pula, beliau  menikahkan sahabat Ali Bin Abi Tholib dengan mahar berupa baju besi, dan diriwayat yang lain ada sahabat yang menikah hanya dengan mahar berupa cincin besi. “Wanita yang paling besar berkahnya ialah wanita yang paling mudah (murah) maharnya.” (Diriwayatkan Ahmad, Al Hakim, dan Al Baihaqi dengan sanad shahih). Jadi intinya kalau memang mampu memberikan mahar yang besar tidak menjadi masalah, dan perlu kesadaran perempuan perihal mahar tersebut untuk mampu menyesuaikan kondisi, syukur lagi sesuai hadits diatas, memudahkan menikah.

Realistis dalam hal hadiah, kadangkala dalam berumah tangga antara suami-istri perlu memberi hadiah. Pada beberapa kesempatan misalnya ulang tahun perkawinan, hadiah atas prestasi istri/suami, bisa juga hadiah tersebut terkait dengan anak. Tak pelak hadiah seringkali memerlukan biaya yang tidak sedikit. Jika kondisi memungkinkan tidak menjadi masalah, tapi jangan lupa kita hidup bersama orang lain. Hadiah yang menurut kita biasa-biasa saja bisa jadi dinilai berlebihan bagi saudara/teman/tetangga yang mau tidak mau mengetahui. Atau sisi lain, jangan sampai “hadiah” menjadi suatu kewajiban dalam setiap kesempatan yang ada (sedikit-sedikit acara, hadiah, cp deh..🙂 )

Realistis dalam hal nafkah (kebutuhan dasar hidup). Berumah tangga berarti “hidup” bersama, “hidup” pasti ada kebutuhan-kebutuhan dasar yang menopangnya. Dan laki-laki memang memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Jadi sangat realistis kalau laki-laki harus berpikir, bertindak dan berusaha untuk mampu memenuhi kebutuhan hidup. Minimal “pas-pasan” dalam arti yang luas, pas-pasan dalam arti terpenuhi kebutuhan dasar saja, atau pas-pasan dalam arti pas perlu mobil pas ada uang, pas perlu rumah pas juga ada rejeki😀. Istri ? kembali ke paragraf awal, harus memiliki kepahaman terhadap kondisi pasanganya, menuntut nafkah boleh saja tapi realistis dalam hal tuntutan itu perlu. Nabi SAW pernah di “demo” para istri, ketika para istri beliau bersepakat untuk meminta tambahan fasilitas hidup, akan tetapi saat itu Beliau dengan sederhana menjawab “demo” para istri dengan sebuah ayat surah Al Ahzab:28. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.

Realistis dalam hal sifat, menikah berarti bertemunya laki dengan perempuan, yang tadinya sedikit mengenal (atau bahkan ada yang belum mengenal) kini harus bersama-sama. Apa jadinya kalau kita tidak memiliki kemampuan dasar untuk memahami lawan jenis atau pasangan kita. Dari sifat phisik saja sudah sangat jelas perbedaan laki-laki dengan perempuan, dan hal tersebut berimbas pada sifat psikologis. Otot laki-laki di dominasi otot polos sedangkan perempuan otot lurik, sifat keduanya berbeda, otot polos tahan dengan kerja keras tapi kurang tahan kerja maraton, sebaliknya meskipun otot lurik lebih halus/lembek sehingga tidak tahan kerja keras, tapi memiliki kemampuan kerja maraton🙂. Nah, jangan samakan sifat/kebiasaan kita dengan pasangan kita. Terutama blogger nih, jangan samakan pasanganmu dengan blog atau komputer yang bisa disuruh apa saja & ditulis apa saja😀. Resepnya adalah bangun komunikasi verbal atau non verbal yang baik antara suami-istri, supaya menjembatani perbedaan sifat tersebut.

2 Tanggapan to “Cerai, Menjanda/duda, Selingkuh ? (4)”

  1. widya Says:

    wuih… berattttt.. saya suka tulisan pak bheri, memberikan banyak inspirasi.😉 btw sekarang dinas dimana pak?
    saya kerja di content provider, cari yang deket rumah.. yang masih tetep bisa baking.. tetep bisa maen sama anak.. maunya sih di telkom serpong ;p apa daya itu hanya tinggal mimpi😀

  2. bheri Says:

    Dimana ? baca di About, ada rute-nya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: