Masa Depan Keluarga Kita

Keluarga memang menyisakan ruang tersendiri dalam sanubari kita. Banyak sekali dendangan lagu yang menyairkan tentang keluarga, tentang tanah kampung halaman. Tapi kini suasana sudah banyak berubah, yang dulu terjadi seolah hanya mimpi dan masa depan semakin “aneh-aneh” saja.

Berikut sebuah tulisan yang saya dapatkan dari milist [balita-anda], karena begitu menyentuh maka ada baiknya menghiasi Blog saya kali ini, sebagai pengikat ilmu dan rasa. Thanks to Pustaka Nilna & [balita-anda].

Masa Depan Keluarga Kita (Jangan sampai ngalamin)

“Keluarga telah mati, kecuali pada tahun pertama atau tahun kedua selama
mengasuh anak.” (William wolf – psikolog)
Para kritikus sosial sedang punya kesempatan baik berspekulasi tentang
masa depan keluarga. “Keluarga akan mendekati titik kepunahan total,” kata
Ferdinand Lunberg, pengarang The Coming World Transformation.
Dulu, ikatan keluarga amat mesra. Kekerabatan pun berlangsung sepanjang
usia. Ayah, ibu, kakek dan nenek tiap hari kumpul bersama. Hidup damai,
tenteram, tak tergesa-gesa. Itulah ciri peradaban masyarakat pertanian
setiap negara.
Lalu masuk era industrialisasi, berubahlah suasana. Hubungan manusia
dengan tempat pemukiman terancam sirna. Manusia pun mulai menjalani kehidupan
serba keras, lapar, berbahaya, dan mengelana. Tapi kendati demikian, fungsi
rumah (meski hanya sebuah gubuk) tetaplah jadi tempat berlindung utama.
Kepustakaan penuh dengan petunjuk yang baik tentang pentingnya rumah.
“Seek home for rest, for home is best.” Carilah rumah untuk istirahat, sebab
rumah itu paling ramah. Begitu nasehat Thomas Tussers dalam Instructions to
housewifery, sebuah buku petunjuk abad ke-16. Yang lain lagi, “A man’s
home is his castle .” (rumah seseorang adalah istananya). “Home, sweet home .”
(rumahku, rumah yang manis). Begitu mesra hubungan manusia dengan
rumahnya.
Lalu datang industrialisasi modern. Ia kian menuntut adanya massa pekerja
yang siap dan mampu meninggalkan tanahnya untuk mencari pekerjaan dan
pindah tempat berkali-kali. Ini berbeda sekali dengan masyarakat tani yang
cenderung menetap menetap untuk jangka waktu yang lama. Revolusi industri
mulai merenggangkan kasih mesra manusia dengan tempat tinggalnya.
Akibatnya, keluarga besar (extended family) termasuk di dalamnya ayah,
ibu, anak, paman, bibi, kakek dan nenek, sedikit demi sedikit terpaksa
“merampingkan tubuhnya”. Timbullah apa yang dinamakan “keluarga inti”
(nuclear family). Itulah dia, suatu unit keluarga yang ringkas, portable
(mudah dibawa) kemana-mana. Ia hanya terdiri dari suami, istri dan
sejumlah kecil anak mereka. Keluarga ini, yang jauh lebih mobile sifatnya dari
keluarga besar tradisional, jadi model standar di semua negara. Termasuk
di Indonesia.
Dampaknya ternyata juga bukan hanya memperenggang hubungan manusia dengan
rumahnya, tetapi juga memperpendek tali kasih manusia dengan sesama
manusia lainnya. Termasuk dengan sesama anggota keluarga. Mulailah banyak yang
merasakan hidup bagai dalam losmen belaka. Tamu-tamunya jarang berjumpa,
seolah-olah tidak saling mengenal. Tak ada waktu untuk membicarakan
masalah-masalah bersama. Tak ada pula aktivitas yang ditujukan untuk
kepentingan bersama.
Kegiatan mondar-mandir, bermusafir dan pindah tempat tinggal, akhirnya
jadi kebiasaan hidup. Makin besar mobilitas, makin banyak perjumpaan tatap muka
yang singkat. Kontak antar manusia jadi sepintas, yang masing-masing
merupakan hubungan tertentu yang fragmentaris dan dalam waktu yang amat
terbatas. Kebiasaan ini pun terbawa dalam kontak keluarga. Tentu ya .
sentuhan kasih, akhirnya tinggal menunggu senja tiba.
Inang-Inang Pengasuh Anak
Di waktu lampau, paman, bibi, nenek dan kakek mempunyai pengaruh besar
terhadap perkembangan jiwa seorang anak. Mereka turut membina, melatih dan
mengasuh si anak, terkadang bahkan sampai tahap dewasa.
Lihatlah zaman sekarang. Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak menjadi lebih penting kedudukannya. Paman, bibi, kakek dan nenek sudah tak
lagi memberikan perlindungan berarti seperti dulu. Dengan demikian
keluarga inti lah yang menjadi sumber utama pembentukan watak, akhlak, kebiasaan
dan perilaku anak. Ayah dan ibu, dua-duanya masih mampu dan mau mendidik
anak-anaknya.
Akan tetapi, ketika laju perkembangan kian deras, pergeseran mulai membuka
suasana baru. Kesibukan pun mulai memaksa ayah menjalani hidup lebih
banyak di luar rumah. Pergi pagi, pulang malam. Kadang tak sempat bercengkerama
dengan istri dan anak-anaknya. Masih untung, ada sang ibu, yang siap
mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
Lalu lahirlah gerakan emansipasi. Para ibu mulai merasa “dipingit” kalau
terlalu banyak di rumah. Tuntutan itu bergema dimana-mana, sampai ke
pelosok desa. Tak dapat dielakkan lagi, akhirnya ayah dan ibu, dua-duanya, keluar
dari rumah, sama-sama bekerja. Waktu interaksi antara ayah-ibu dengan
anak-anaknya makin luntur dalam rona kelabu senja.
Urusan anak, sejak itu, mulai diserahkan sepenuhnya kepada orang lain.
Mulailah masuk anggota keluarga baru, inang pengasuh (merangkap pembantu
atau tidak) dalam struktur keluarga. Inang pengasuh itu, saat ini telah
menggantikan fungsi ibu.
Selain itu fungsi orang tua lainnya yang juga diserahkan kepada orang lain
(atau pihak luar) adalah fungsi sebagai pendidik anggota keluarga. Fungsi
ini kini telah begitu mapan. Telah banyak keluarga yang menyerahkan dan
mempercayakan pembinaan anaknya kepada lembaga pendidikan, sepenuhnya,
sehingga perhatian dan kontrol ayah-ibu luput begitu saja.
Orang Tua Profesional
Apakah yang bakal terjadi di masa depan? Kalau kecenderungan ini masih
tetap demikian, bisa diperkirakan mobilitas hidup manusia akan semakin tinggi.
Tuntutan “survive” dalam kancah kehidupan secara layak menimbulkan alam
persaingan semakin kejam. Karena itu, bisa jadi pada sebagian keluarga,
proses perampingan keluarga itu akan terus berlanjut, yaitu keluarga tanpa
anak. Keluarga hanya tinggal komponennya yang paling elementer, seorang
pria dan seorang wanita.
Dua orang itu, mungkin dengan karir yang sepadan, akan terbukti lebih
efisien untuk mengarungi pendidikan dan lika liku sosial, melalui
perubahan pekerjaan dan relokasi geografis global, dibanding keluarga tradisional
yang sering direpoti anak.
Pada masa seperti itu, ada kemungkinan lahirlah jenis profesi baru.
Profesi yang khusus mengasuh dan mendidik anak secara lebih baik, yaitu “keluarga
profesional”.
Kalau itu benar-benar terjadi, muncullah dua jenis orang tua: orang tua
biologis dan orang tua profesional. Orang tua biologis adalah yang
melahirkan anak, sedangkan orang tua profesional adalah yang mengasuh,
membesarkan dan mendidik anak.
Atau pada sebagian keluarga ada pula yang memilih melakukan suatu kompromi
berupa penundaan waktu beranak. Gejala ini terlihat dari banyaknya pria
atau wanita yang terombang-ambing dalam konflik antara komitmen pada karir atau
komitmen pada anak. Maka mulai banyak pasangan akan menghindari persoalan
itu dengan menunda seluruh kewajiban mengasuh anak, bisa jadi sampai
sesudah pensiun.
Andaikata diberi kesempatan, banyak orang tua yang makin senang hati
menyerahkan tanggung jawab keibu-bapakan mereka kepada orang lain, bukan
karena tidak memiliki rasa tanggungjawab atau kasih sayang. Mereka pusing,
bingung, terpojok. Mereka mulai insaf bahwa mereka sudah tak mampu
menunaikan kewajiban. Dalam keadaan ekonomi berkecukupan dan dengan
tersedianya “jasa orang tua profesional” yang (berijazah mungkin) dan
telah berketrampilan khusus (tentang parenting), banyak orang tua biologis tidak
hanya akan senang menyerahkan anaknya kepada mereka, bahkan memang
memandang langkah itu sebagai suatu tindakan kasih sayang kepada masa depan anaknya.
Lalu jangan heran, kalau suatu hari nanti, kita akan baca sebuah iklan,
“Mengapa kewajiban sebagai orang tua membelenggu anda? Percayakanlah kami
mengasuh anak Anda menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan
berhasil. Keluarga profesional ‘Happy Family’ terdiri dari seorang ayah usia 39
tahun, ibu 36 tahun, seorang nenek 57 tahun. Paman dan bibi masing-masing 30
tahun dan tinggal bersama. Unit empat-anak masih dapat menerima seorang anak
lagi usia 6 – 8 tahun. Makanan teratur, melebihi standar pemerintah. Semua
orang dewasa sudah berijazah parenting berlisensi. Orang tua biologis boleh
mengunjungi anak secara berkala. Ada kesempatan pula untuk saling kontak
via telpon. Anak boleh berlibur dengan orang tua biologis. Kontrak minimal 5
tahun. Rincian lebih lanjut, silakan hubungi telpon 1234567890.”
Bagaimana, Anda jadi tertarik baca iklan seperti itu?

—————————————————–
Sumber: Pustaka Nilna

Ditulis dalam Keluarga. 3 Comments »

3 Tanggapan to “Masa Depan Keluarga Kita”

  1. benbego Says:

    bisa jadi tuh. Orang tua kontrak!😀

  2. nilna Says:

    Kalau masih bisa diedit, tolong ditulis juga link URL nya ke artikel tsb ya. tks. salam kenal🙂 Nilna

  3. bheri Says:

    Nilna Iqbal ! , wow surprise! (blog) saya dikunjungi, sudah saya edit. Makasih & salam kenal juga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: