Tanggal 14 Juni 2008 lalu merupakan hari pengumuman kelulusan sekolah terutama tingkat SMU/SMK sederajat. Kebetulan hari itu saya sedang melewati jalan A Yani, terlihat serombongan – konvoi – anak anak yang baru lulus menaiki sepeda motor.
Saat itu mereka beramai-ramai memadati jalan A Yani Pontianak, tentu dengan tampilan khas anak sekolah yang baru lulus. Baju seragam corat-coret, bahkan rambut juga kena pilox, dan ada juga yang dengan gagah (baca: pongah)-nya naik sepeda motor sambil berdiri, pendeknya bak pesta akrobatik. Soal kelengkapan helm, jangan ditanya, pasti amburadul.
Apakah kelulusan itu merupakan cermin sebuah kebebasan, bebas lepas!!!. kalau demikian berarti selama ini pendidikan kita masih memberikan dampak tekanan/depresion, paksaan, atau ikatan belenggu. Sehingga ketika lulus, para muridnya merasa menjadi orang bebas merdeka atau identik dengan istilah FREE MAN. Padahal kita tahu Free-Man ini adalah asal dari kata Preman. Kalau memang demikian betapa ironisnya ? Pendidikan kita ini masih mendorong anak didik berujung mencetak preman ? Semoga tidak begitu.
Atau mereka sekedar meniru, meniru kakak kelasnya yang terdahulu (jangan2 kita termasuk saya, adalah juga contoh dari mereka). Kenapa hanya mau meniru yang tidak baik ? apakah tidak ada lagi contoh terdahulu yang lebih baik. Kenapa ? apakah sudah mati kreativitas? Semoga juga tidak begitu. Sepertinya indikator seperti ini menjadi stimulan buat kita semua untuk memperbaiki, Indonesia Bisa !!!
(Masprim, pinjem gambarnya
)






